5 Persoalan Akut yang Mendera Persipura sehingga Kehilangan Taji di Shopee Liga 1 2019



Sukses Persipura di percaturan elite sepak bola Tanah Air tak lepas dari kontribusi generasi emas Papua usai menjadi juara PON 2004.

Tim Mutiara Hitam kebanjiran pemain-pemain bertalenta yang secara signifikan mengerek performa dan prestasi tim. Boaz Solossa, Ian Kabes, Immanuel Wanggai, Christian Worabay, Ricardo Salampessy, Gerald Pangkali, adalah pemain belia alumnus PON 2004.

Khusus Boaz, ia melejit jadi superstar. Ia menjelma jadi penyerang terbaik Indonesia pasca era Bambang Pamungkas.

Ia satu-satunya bomber lokal yang bisa eksis di persaingan perburuan sepatu emas yang selalu didominasi penyerang-penyerang asing.

Boaz tercatat menjadi pencetak gol terbanyak Indonesia Super League musim 2008-2009 (28 gol), 2010-2011 (22 gol), 2013 (25 gol). Berbarengan dengan itu ia juga didapuk sebagai pemain terbaik.

Pada musim 2016 ia juga jadi best player Torabica Soccer Championship.

Realitanya, pemain-pemain yang masuk generasi emas sudah mulai dimakan umur. Boaz kini sudah masuk usia 33 tahun (kelahiran 16 Maret 1986). Demikian pula Wanggai dan Kabes. Ricardo malah usianya lebih uzur lagi, 35 tahun.

Persipura masih mengandalkan tenaga mereka, yang masuk periode pengujung karier.

Manajemen Persipura bisa dibilang gagal melakukan regenerasi tim. Agak ironis karena Papua dikenal sebagai provinsi yang produktif mencetak pemain-pemain bertalenta.

Persoalannya mereka tak pernah dapat porsi besar menjadi tulang punggung Tim Mutiara Hitam. Di sisi lain, pemain-pemain senior mereka satu per satu mulai kehilangan taji.

Ambil contoh Immanuel Wanggai, yang tiga musim terakhir lebih sering absen karena cedera lutut kambuhan. Padahal pada masa jayanya, ia termasuk gelandang jangkar terbaik yang dimiliki Indonesia.

Dua musim terakhir manajemen Persipura memberikan porsi besar pada darah muda. Sayangnya, mereka terlihat gagap menghadapi persaingan keras kompetisi. Butuh waktu bagi mereka untuk menjadi matang.