Persija Vs PSM: 7 Kali Berpesta Juara, SUGBK Kandang Keramat bagi Macan Kemayoran


Pemain Persija merayakan kesuksesan menjadi juara perserikatan 1964. (Bola.com/Repro Aneka)

Persija merupakan raja kompetisi amatir perserikatan. Hal itu tak terbantahkan. Koleksi gelar juara yang diraih Tim Macan Kemayoran mengalahkan klub-klub legendaris lainnya macam, Persebaya Surabaya, PSMS Medan, PSIS Semarang, atau Persib Bandung.

Pada periode 1950 hingga 1970-an Persija tidak pernah kering mencetak pesepak bola berbakat. Mereka lahir dari binaan kompetisi internal yang tertata rapi.

Persija kerap dijuluki miniatur Timnas Indonesia, sanking banyaknya pemain mereka yang masuk skuat Tim Merah-Putih.

Di era 1960-an sosok Endang Witarsa melegenda sebagai pelatih bertangan dingin yang banyak mencetak pemain-pemain belia berkelas Persija. Di awal masa kepemimpinannya pada tahun 1962, ia dengan berani melakukan perombakan total skuat Tim Macan Kemayoran.  

Pelatih yang berprofesi sebagai dokter gigi itu mencampakkan nama-nama beken macam Tan Liong Ho, Paidjo, San Liong, serta Chris Ong, yang menjadi pilar klub di era 1950-an. Skuat Persija dihuni pemain interval usia 16-19 tahun!

Di era Endang Persija dibela Sinyo Aliandoe, Yudo Hadijanto, Surya Lesmana, Soetjipto Soentoro. Dan benar saja Persija di tangan Endang jadi tim terbaik dengan bermodal darah muda. Di laga final perserikatan 1964, Persija berjumpa Persebaya.

Saat itu Maung Bandung termasuk tim kuat di perserikatan, selain PSM Makassar. Laporan Majalah Aneka Olahraga menuliskan Stadion Utama Gelora Bung Karno penuh sesak 60 ribu pasang mata. 

Pendukung Persija saat merayakan kesuksesan klub kesayangannya jadi juara perserikatan 1973. (Bola.com/Repro. Kompas)

Di hadapan pendukungnya Persija membungkam Tim Bajul Ijo 4-1. Gelar juara Persija terasa spesial karena sepanjang kompetisi perserikatan mereka tidak pernah kalah. Sukses Persija mengantar Endang Witarsa ke kursi nakhoda Timnas Indonesia.

Tujuh tahun berselang Persija kembali bersua Persebaya di laga puncak perserikatan 1973. Kali ini Persija ditukangi murid Endang, Sinyo Aliandoe.

Kedua tim yang terlibat bentrok bertabur bintang. Persija dibela Sutan Harharah, Anjas Asmara, dan Oyong Liza. Sementara itu, Persebaya diperkuat Rusdi Bahalwan, Abdul Kadir, dan Waskito.

Pertandingan di SUGBK berlangsung panas sejak menit awal. Seperti yang diberitakan Harian Merdeka, sempat terjadi tawuran antarpemain. Insiden baku pukul mencuat seusai Sutan Harharah mentekel Abdul Kadir. Pemain Persebaya lain yang tidak terima rekannya dikasari menyerbu Oyong Liza, kapten Persija.

Selanjutnya giliran Rusdi Bahalwan yang dikeroyok pemain Macan Kemayoran. Pihak keamanan turun ke lapangan buat memisahkan tawuran.

Sepanjang pertandingan Persebaya mengintimidasi Persija. Tim tuan rumah dibuat bertahan total.

Namun, dewi fortuna lebih berpihak pada Persija. Pada menit ke-81, berawal dari tendangan bebas, Risdianto melayangkan umpan terukur pada Andi Lala, yang kemudian dengan aksi individu memperdaya kiper Bajul Ijo, Harry Tjong. Hingga peluit panjang ditiup wasit skor tak berubah 1-0 buat tim ibu kota.

Pemain Persija melakukan aksi selebrasi keliling lapangan dengan membawa bendera berlambang Jaya Raya, yang menjadi simbol Jakarta dan Persija sendiri.